"MCHOYBLOGINFO". Diberdayakan oleh Blogger.

Info Manajemen dan Kepemimpinan - mchoyBLOGinfo

Share on :

Manajemen dan Kepemimpinan

Management is doing things right; leadership is doing the right things.
(Peter F. Drucker)
Ilmu manajemen bisa dibilang disiplin keilmuan yang baru ditemukan. Namun bukan berarti tidak pernah dijalankan sebelum ditemukannya ilmu tersebut. Seperti halnya hukum gravitasi yang ditemukan Newton, bukan berarti sebelum itu hukum gravitasi tidak berlaku.
George R. Terry dalam bukunya “Principles of Management” menyampaikan pendapatnya, bahwa “Manajemen adalah suatu proses yang membeda-bedakan atas ; perencanaan, pengorganisasian, penggerakan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”
Perlu digaris bawahi kata ‘tujuan’ dalam definisi yang disampaikan di atas. Sebuah penanda yang menunjukkan bahwasanya manajemen tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan. Seperti terlihat dari kutipan dari seorang pakar manajemen, Peter F. Drucker, di awal tulisan ini, tersirat pengertian bahwa sebaik apapun kegiatan manajemen dilakukan, bila tanpa adanya kepemimpinan yang benar maka hanya akan lebih cepat menjauhi tujuan.
Terngiang kearifan abadi dari seorang pakar kehidupan, Ja’far Ash-Shadiq, “Orang berakal yang tidak cerdas tidak ubahnya seperti orang yang berjalan bukan pada jalan yang benar, sehingga cepatnya jalan tidak membuatnya semakin dekat kepada tujuan melainkan semakin jauh”. ***


Pada tulisan sebelumnya, terungkap bahwa praktek manajemen telah dilakukan sebelum ditemukannya disiplin ilmu manajemen dalam suatu rumusan ilmiahnya.
Sesungguhnya, hal yang sama terjadi pada kepemimpinan. Sebelum para ilmuwan sosial merumuskan dan mempublikasikan teori kepemimpinan dari berbagai pendekatan, praktek kepemimpinan itu sendiri telah ada jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan sebelum spesies manusia muncul di muka bumi.
Kepemimpinan berkaitan dengan keteraturan. Atau lebih tepatnya keterarahan pada suatu tujuan. Ketika bumi mengelilingi matahari dengan demikian teraturnya, hal tersebut menunjukkan adanya suatu bentuk kepemimpinan. Kalau kita melihat pola hidup semut atau tawon yang hidup dalam bentuk koloni-koloni, akan kita sadari, betapa terdapat pemimpin dan pola kepemimpinan yang mengatur cara hidup serangga-serangga tersebut.
Demikian pula halnya dengan manusia. Senantiasa ada pemimpin dalam kumpulan manusia, sehingga kehidupan sosialnya tidak berujung pada kehancuran atau saling membunuh dan membinasakan satu sama lainnya.
Pada umumnya kita biasa berpikir bahwa pemimpin itu harus diangkat atau dipilih. Padahal tanpa kita sadari, pemimpin itu sebenarnya sudah ada bahkan  semenjak berbagai bentuk pemilihan belum dilakukan. Pemimpin sejati, tak perlu berharap orang-orang untuk memilih dan mengangkatnya. Karena bukankah tanpa dipilih pun, selama ini ia sudah memimpin?
Maka, pemimpin tidak mesti diangkat atau disematkan. Dan bagi yang sungguh ingin mengetahui siapa yang memimpin dirinya selama ini, maka pemimpin itu seharusnya ditemukan. Karenanya, ketimbang melakukan voting maupun referendum, barangkali metode yang lebih tepat adalah dengan melakukan riset, penelitian, wawancara, diskusi, serta musyawarah atau saling bertukar pendapat bila ingin mengetahui siapa sesungguhnya yang merupakan pemimpin dari suatu kelompok masyarakat.
Pemerintah tidak mungkin dipatuhi perintah-perintahnya bila tanpa adanya kepemimpinan. Berlainan dengan hal itu, pemimpin akan selalu dipatuhi, meski tanpa perlu memerintah.
Menutup catatan ini, izinkan penulis mengutip secuplik hak dan kewajiban berkaitan dengan masalah kepemimpinan sebagaimana tersingkap dari tuturan lisan ‘Ali Zainal ‘Abidin, putra dari seorang martir (ayah beliau adalah Hussain bin ‘Ali bin Abi Thalib –cucu kesayangan Nabi Umat Islam [shalawat dan salam atasnya dan atas keluarganya]– yang terbunuh secara tragis pada masa administrasi pemerintahan kaum muslim tengah dipegang oleh Yazid bin Mu’awiyah) yang berhasil terdokumentasi dan kemudian diterjemahkan ulang dari versi terjemahan bahasa Inggrisnya, “The Treatise on Rights“.
Berikut ini kutipannya:

Hak Pemimpin
“Adapun hak penguasamu atas dirimu adalah engkau harus mengetahui bahwasanya Tuhan telah menjadikanmu sebagai ujian*) untuk dirinya. Allah swt. mengujinya (penguasa) dengan kekkuasaan yang ia miliki atas dirimu. Engkau harus memenuhi haknya dengan memberikan saran kepadanya dengan tulus hati. Janganlah engkau bertengkar dengannya tatkala ia memiliki kuasa atas dirimu, karena hal ini jika berkelanjutan maka dapat membinasakanmu dan juga dirinya. Apa-apa yang ia berikan kepadamu sebaiknya engkau terima dengan rendah hati dan sopan santun agar ia merasa dihargai olehmu dan juga puas akan kesediaanmu untuk menerima apa-apa yang telah ia berikan. Jika hal tersebut engkau lakukan, maka ia tak akan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan agamamu. Mohonlah pertolongan Allah swt. dalam masalah ini.
Hak lainnya yang harus engkau penuhi adalah engkau jangan menentang kekuasaannya dan menolak kuasa yang ia miliki atas dirimu. Jika engkau melakukan hal itu, maka engkau akan menjadi tidak patuh terhadap dirinya dan juga tidak patuh terhadap dirimu sendiri**). Ketidakpatuhanmu ini akan mengakibatkan dirimu terkena amarahnya. Dirinya pun dapat menuju kehancuran (tumbang kekuasaannya) dikarenakan ketidakpatuhanmu itu. Hal ini sama saja dengan menghancurkan diri sendiri dan keadaan masing-masing (dirimu dan penguasa).”

Hak rakyat (orang yang dipimpin)
“Hak rakyat (orang yang dipimpin) atas dirimu sebagai penguasa atas diri mereka adalah engkau harus mengetahui bahwa kekuasaanmu atas diri mereka dikarenakan kekuatan yang engkau miliki, baik kekuatan fisikmu, maupun non-fisikmu (seperti kekuatan intelektual). Mereka menjadi di bawah kekuasaanmu dikarenakan lemahnya fisik mereka dan hati mereka yang merendah. Mereka yang memiliki kekuatan tentunya akan menguasai mereka yang lemah dan kepatuhan yang lemah terhadap yang kuat adalah suatu hal yang wajar, mengingat kurangnya kekuatan yang mereka miliki. Kekuatan yang mereka miliki hanyalah kesabaran mereka dan pertolongan dari Allah swt.
Hak orang yang dipimpin ini juga mengharuskan kesadaranmu atas anugerah yang diberikan oleh Allah swt. kepadamu dengan bersyukur kepada-Nya dan memperlakukan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinanmu dengan baik dan sesuai kehendak Allah swt. Allah swt. akan menambah karunia-Nya kepada mereka yang bersyukur kepada-Nya.
Tiada kekuatan selain dengan karunia Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Catatan kaki:
*) Ujian di dalam kalimat tersebut dapat diartikan dengan seberapa besar kesungguhan dan usaha si penguasa dalam melayani  dan melindungi dirimu (sebagai yang dipimpin). Karena usaha si penguasa akan terlihat dari keadaan dirimu, maka keberhasilan si penguasa tergantung dirimu. Sehingga dapat dikatakan bahwa di dirimulah yang menentukan keberhasilan si penguasa. Karenanya, dirimu adalah ujian baginya (penguasa).
**) Maksud dari “…tidak patuh terhadap dirimu sendiri” adalah tatkala dia mulai berkuasa atas dirimu, engkau menerima kekuasaannya dan berjanji, baik secara lisan maupun dalam hatimu untuk mematuhinya. tatkala engkau menentangnya, engkau dianggap tidak patuh terhadap dirimu sendiri karena sebelumnya engkau sudah berjanji untuk menjadikan dirimu patuh kepada penguasamu.
sumberinfo

JANGAN LUPA...LIKE THIS YAA..?

0 komentar:

Poskan Komentar

Info Wisata

 photo freebanner_zps107bd00d.gif Info Hub. 0899 8 933339 Rumah Subsidi

Pengikut

Related Post

Arsip Blog

Info Musik